Search

Apa Itu Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence)?

Hampir setiap orang pernah berada di situasi di mana kata hati bertentangan dengan opini orang-orang di sekitar kita. Coba ingat kembali waktu terakhir Anda berada di situasi seperti itu. Bagaimana perasaan Anda waktu itu?

Banyak orang merasa tidak nyaman ketika berbeda pendapat dengan mayoritas. Dan karena itu, mereka akan lebih memilih untuk diam daripada berbeda pendapat. Ini terjadi di berbagai situasi sosial, baik ketika berbincang politik dengan tetangga maupun saat memilih tempat makan malam bersama kerabat.

Tapi mengapa berbeda pendapat begitu menakutkan? Dalam bukunya berjudul The Spiral of Silence - Public Opinion, Elisabeth Noelle-Neumann, seorang ahli komunikasi asal Jerman, menawarkan teori untuk menjelaskan peristiwa ini: Teori Spiral Keheningan (Spiral of Silence Theory).

Apa itu Teori Spiral Keheningan?

Profesor Elisabeth Noelle-Neumann sedang menunduk dalam pikiran yang dalam, dagunya bersandar pada kepalan tangan kanannya.
Prof. Elisabeth Noelle-Neumann, ahli sosiologi dan ilmu komunikasi yang mengembangkan teori Spiral Keheningan.

Teori Spiral Keheningan menjelaskan mengapa kita lebih pilih diam daripada bersuara ketika berbeda pendapat dengan mayoritas. Konsep dasarnya sangat sederhana namun efektif menjelaskan mengapa manusia enggan menyuarakan opini yang berbeda. Menurut teori ini:

  1. Manusia punya naluri untuk membaca opini mayoritas. Menurut Noelle-Neumann setiap manusia mempunyai organ quasi-statistikal. Organ ini sebuah metafora untuk naluri "membaca" opini mayoritas secara alami dan tidak sadar.
  2. Manusia takut dikucilkan dan tahu perilaku apa yang bisa membuatnya dikucilkan.
  3. Manusia takut menyuarakan pendapat yang berbeda dari mayoritas, terutama karena rasa takut dikucilkan.

Singkatnya...

Kita takut berbeda pendapat karena itu dapat membuat kita dikucilkan dari komunitas kita.

Mengapa kita takut dikucilkan oleh masyarakat?

Manusia menguasai bumi selama ribuan tahun karena kemampuan kita untuk bekerja sama. Seseorang tidak dapat bertahan lama di tengah hutan seorang diri, tapi bersama-sama dengan anggota sukunya, ia dapat membangun komunitas yang berkuasa atas hutan. Maka, secara evolusioner, manusia sangat membutuhkan diterima oleh masyarakatnya karena secara psikologi kita memahami bahwa bersama kita kuat; dikucilkan berarti mati.

Spiral Keheningan sebagai Pengendali Sosial

Noelle-Neumann menyebut efek spiral keheningan ini sebagai sebuah "kontrol sosial". Kita secara alami dapat "membaca" pendapat orang di sekitar kita dan menyesuaikan perilaku (dan opini) menjadi "sealiran" dengan mayoritas.

Efek spiral keheningan memudahkan pembuatan keputusan dalam komunitas. Agar tidak terjadi perdebatan lama, efek spiral keheningan menekan suara bertentangan untuk diam, sehingga keputusan dapat diambil dengan cepat.

Namun, ada efek samping yang berbahaya. Spiral keheningan secara terus-menerus mendukung dominansi mayoritas. Akhirnya, terjadi pembungkaman suara minoritas.

Ini yang dimaksud Noelle-Neumann dengan "spiral" keheningan. Rasa takut dikucilkan membuat kita takut melawan mayoritas. Ini memperkuat dominansi mayoritas, dan itu membuat kita semakin takut melawan mayoritas.

Efek spiral keheningan memastikan bahwa perlahan-lahan, opini yang berbeda akan tenggelam.

Kritikan & Keterbatasan Spiral Keheningan

Teori Spiral Keheningan berkontribusi besar pada pemahaman kita mengenai proses pembentukan opini publik, namun, ada pun kritikan terhadap teori ini yang perlu diperhatikan.

Budaya mempengaruhi kecenderungan kita dalam mengutarakan pendapat yang berbeda. Di negara-negara demokrasi liberal seperti Eropa Barat, dimana hak individu sangat dihormati, orang cenderung merasa lebih bebas menyampaikan pendapat minoritas. Sebaliknya, di banyak negara Asia yang menekankan keharmonisan dan konsensus, orang lebih jarang menyuarakan pendapat yang berbeda. Oleh karena itu, efek spiral keheningan tidak bersifat universal dan bervariasi tergantung pada konteks budaya dan situasi.

Platform media sosial menciptakan ruang aman di dunia digital untuk menyuarakan pendapat yang berbeda dari mayoritas. Algoritma sosial media mengelompokkan pengguna berdasarkan "engagement" (e.g., "likes" dan "shares"), sehingga kita hanya disajikan konten yang kita sukai dan dijauhkan dari konten yang berbeda dari opini pribadi. Hal ini membuat pengguna merasa seolah-olah opini mereka adalah mayoritas, mengurangi rasa takut akan dikucilkan yang dijelaskan dalam teori spiral keheningan.

Eksploitasi Spiral Keheningan

Individu atau kelompok dapat mengeksploitasi teori Spiral Keheningan dengan berbagai cara untuk memanipulasi opini publik atau menekan suara yang berbeda.

Misalnya, melalui manipulasi media, mereka menciptakan persepsi bahwa suatu opini adalah pandangan mayoritas, walaupun kenyataannya tidak demikian, sehingga mengurangi keinginan untuk menyuarakan pendapat berbeda. Di media sosial, algoritma dapat menciptakan ruang gema yang memperkuat pandangan tertentu dan menekan yang lain.

Taktik intimidasi, seperti bullying atau trolling, juga digunakan untuk mendiamkan suara-saura yang berseberangan, memanfaatkan ketakutan akan isolasi sosial atau balasan.

Pentingnya memahami Spiral Keheningan

Memahami teori Spiral Keheningan dan cara kerjanya sangat penting karena membantu kita menyadari bagaimana tekanan sosial dapat memengaruhi keberanian kita untuk menyuarakan pendapat. Hal ini memberikan kita wawasan untuk lebih berani dan kritis dalam berpartisipasi dalam diskusi publik.

Selain itu, memahami Spiral Keheningan juga membantu kita mengidentifikasi saat kita sedang dimanipulasi, memungkinkan kita untuk melawan upaya yang bertujuan membungkam suara kritis dan mempertahankan kebebasan berekspresi.

Referensi

Gabung bersama kami membuat perubahan positif bagi masyarakat.

Baca informasi pendaftaran mahasiswa baru → Download brosur FISIP UPRI →