Makassar, 29 Juli 2025 – Tim peneliti Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang didanai oleh BIMA – Kemdikbudristek menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Belajar Gaya Kita: Perancangan Media Pembelajaran Masa Kini”. Kegiatan ini dilaksanakan di Classroom Makassar Creative Hub sebagai bagian dari tahapan pengumpulan data penelitian yang berfokus pada pengembangan model media pembelajaran digital berbasis Communication Accommodation Theory (CAT). Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan peneliti dari Ilmu Komunikasi UPRI dan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Makassar (UNM), yang bersama-sama berupaya memadukan perspektif dan keahlian lintas institusi untuk merancang media pembelajaran digital yang adaptif terhadap gaya belajar mahasiswa.

FGD ini bertujuan memperoleh masukan langsung dari mahasiswa terkait kebutuhan, preferensi, dan kebiasaan mereka dalam mengakses materi pembelajaran, khususnya pada mata kuliah teori sosial. Peneliti utama, Janisa Pascawati, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa penelitian ini mengacu pada Communication Accommodation Theory yang dikembangkan oleh Howard Giles pada tahun 1970-an. Teori ini menekankan pentingnya penyesuaian (accommodation) gaya komunikasi oleh pembicara, dalam hal ini dosen, agar sesuai dengan audiens, yaitu mahasiswa. Penyesuaian tersebut dapat berbentuk convergence (mendekatkan gaya komunikasi) untuk meningkatkan pemahaman dan kedekatan, maupun divergence (membedakan gaya komunikasi) untuk mempertahankan identitas.
"Selama ini banyak media pembelajaran digital dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan gaya komunikasi dan pola belajar mahasiswa yang beragam. Melalui CAT, penelitian ini berupaya mengintegrasikan aspek komunikasi ke dalam desain media pembelajaran digital sehingga materi yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan diterima oleh mahasiswa," tambahnya.

Kegiatan FGD diikuti oleh mahasiswa dari Universitas Pejuang Republik Indonesia, Universitas Negeri Makassar, dan Universitas Hasanuddin. Peserta dikelompokkan berdasarkan asal kampus dan diminta untuk mendiskusikan pengalaman belajar mereka, jenis media pembelajaran yang biasa digunakan, serta format media yang dianggap paling efektif.
Diskusi berlangsung interaktif, menghasilkan temuan bahwa mahasiswa menyukai video pembelajaran berdurasi 6–10 menit, dan untuk video berdurasi lebih panjang, mereka menghendaki adanya pembagian poin atau segmen yang jelas. Media audiovisual dengan narasi berintonasi dinilai lebih menarik, apalagi jika disertai alur bercerita (storytelling) dan studi kasus yang relevan. Penyusunan materi dalam bentuk presentasi panjang tetap dapat diterima selama dilengkapi titik pemisah topik, sedangkan platform belajar yang menyediakan fitur interaktif seperti kuis atau simulasi dianggap meningkatkan keterlibatan. Mahasiswa juga menilai bahwa contoh prototipe media pembelajaran memberikan pengalaman yang lebih nyata dan terasa personal, sehingga membantu mereka memahami materi.

Temuan-temuan ini memperkuat relevansi Communication Accommodation Theory dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya dalam upaya menjembatani perbedaan gaya komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Dengan menyesuaikan gaya penyampaian materi dan format media pembelajaran, pengajar dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan setara.
Seluruh masukan dan data yang terkumpul akan diolah lebih lanjut untuk menyusun prototipe media pembelajaran digital yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan siap diujicobakan pada tahap penelitian berikutnya. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran teori sosial di perguruan tinggi serta menjadi referensi bagi pengembangan media pembelajaran digital yang mengedepankan keadilan komunikasi di Indonesia.


