Search
Laman ini terakhir diperbarui pada tanggal 6 Agustus, 2026.

Bayangkan sekelompok perempuan di Makassar, datang dari latar pra-sejahtera, mencoba membangun usaha kecil-kecilan—mulai dari dapur rumah, modal seadanya, dan harapan menambah pemasukan keluarga. Produknya sederhana: sambal rumahan, kue kering, atau kerajinan tangan.

Pertanyaan pun muncul: “Mending sejahterakan diri dulu, atau langsung membesarkan usaha?”

Di satu sisi, kebutuhan harian mendesak: uang untuk belanja dapur, biaya sekolah anak, atau cicilan. Di sisi lain, jika usaha tidak dikembangkan sejak awal, peluang untuk tumbuh bisa terlewat. Idealnya, kesejahteraan harian dan pengembangan usaha berjalan beriringan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pelaku UMKM kesulitan menjaga keseimbangan ini karena keterbatasan pengetahuan dan akses pada dukungan yang berkelanjutan. Di sinilah pelatihan literasi digital memainkan peran sentral—bukan hanya sebagai kegiatan transfer pengetahuan, tetapi sebagai proses pemberdayaan jangka panjang.

Dalam praktiknya, hasil wawancara menunjukkan bahwa dua motivasi besar tampak mendorong proses adopsi literasi digital di kalangan pelaku UMKM perempuan di Makassar. Pertama adalah orientasi penghidupan—fokus pada pemasukan harian yang stabil. Bagi mereka, teknologi digunakan sebagai alat untuk mempercepat transaksi dan memperluas jangkauan pembeli. Tujuan utama di sini adalah memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, dari dapur yang tetap terisi hingga biaya pendidikan anak yang aman. Kedua adalah orientasi aktualisasi diri—memandang usaha sebagai ruang untuk bereksperimen, mengekspresikan ide, dan membangun identitas merek. Pada orientasi ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari pencapaian personal, seperti mampu menembus pasar baru, menciptakan produk inovatif, atau mendapatkan pengakuan dari konsumen.

Meskipun motivasi ini berbeda arah, keduanya bertumpu pada fondasi yang sama: keterampilan literasi digital. Baik yang mengejar kestabilan pendapatan maupun yang berorientasi pada pengembangan identitas merek, sama-sama membutuhkan kemampuan memahami pasar, mengelola konten digital, memanfaatkan media sosial secara strategis, dan menjaga etika interaksi di dunia maya.

Pelatihan literasi digital seharusnya tidak berhenti pada satu kali kegiatan atau sesi yang bersifat seremonial. Bagi pelaku UMKM, terutama yang berada pada tahap rintisan dan berasal dari kelompok pra-sejahtera, kebutuhan akan keterampilan digital bukanlah sesuatu yang selesai dipelajari dalam sehari. Mereka memerlukan program yang rutin, berkelanjutan, dan terjangkau, agar keterampilan yang diperoleh tidak hanya menjadi pengetahuan sesaat, tetapi benar-benar dapat diinternalisasi dan diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Tanpa kesinambungan, pelatihan sering kali hanya memberikan efek sementara. Para pelaku mungkin merasa bersemangat di awal, namun tanpa pendampingan lanjutan, mereka kembali pada pola lama yang kurang adaptif terhadap perubahan pasar. Bahkan, bagi sebagian UMKM, keterbatasan akses terhadap pelatihan yang relevan dan sesuai konteks lokal membuat mereka tertinggal dalam persaingan, meskipun sebenarnya memiliki potensi produk yang baik.

Sebuah pelatihan yang baik seharusnya memperhatikan tiga hal utama. Pertama, keteraturan—program dilakukan secara berkala, misalnya setiap bulan atau per kuartal, sehingga peserta memiliki waktu untuk mempraktikkan materi yang dipelajari dan kembali dengan pengalaman nyata yang dapat dibahas. Kedua, kontekstualitas—materi pelatihan disesuaikan dengan jenis usaha, kapasitas teknologi yang dimiliki, dan kondisi pasar setempat. Misalnya, strategi pemasaran online untuk penjual sambal rumahan tentu berbeda dari pengrajin kerajinan tangan yang menargetkan pembeli luar negeri. Ketiga, aksesibilitas—pelatihan harus terjangkau secara biaya dan mudah dijangkau lokasinya, termasuk dengan menyediakan opsi daring bagi mereka yang sulit hadir secara langsung.

Keterampilan yang dibangun dalam proses ini sejalan dengan 8 Elemen Literasi Digital dari Doug Belshaw. Elemen-elemen seperti cultural (memahami budaya dan konteks pasar), cognitive (kemampuan memproses informasi), constructive (mengembangkan dan mempromosikan produk), communicative (berinteraksi efektif di dunia digital), dan confident (percaya diri dalam menampilkan produk) menjadi pondasi penting yang memampukan UMKM untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Elemen lainnya, seperti critical (bersikap kritis terhadap peluang), creative (menciptakan strategi pemasaran yang unik), dan civic (memegang etika dalam berinteraksi dengan konsumen), melengkapi kemampuan ini sehingga usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan. Pentingnya pemahaman pasar berbasis perilaku, bukan sekadar wilayah, juga menjadi wawasan berharga yang diperoleh sebagian pelaku. Mereka mulai menyadari bahwa konsumen tidak harus berada di sekitar lokasi usaha; yang lebih menentukan adalah kesesuaian produk dengan minat dan kebiasaan target pembeli. Ada yang kemudian menyesuaikan strategi promosi dengan tren gaya hidup, seperti makanan sehat atau kemasan ramah lingkungan, untuk menarik segmen tertentu yang lebih potensial.

Proses pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mengubah cara berpikir. Bagi pelaku dengan orientasi penghidupan, kemampuan digital memungkinkan mereka menjangkau lebih banyak pembeli dan meningkatkan arus kas harian. Sementara bagi pelaku dengan orientasi aktualisasi diri, literasi digital memberi ruang untuk bereksperimen dengan strategi baru, menguji produk inovatif, dan membangun citra merek yang lebih kuat. Namun, semua ini hanya dapat berlangsung secara efektif bila ada pendampingan yang konsisten. Pelatihan yang berkesinambungan memberi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk terus mengasah keterampilan, mendapatkan umpan balik, dan memperbaiki strategi. Hal ini juga membuka peluang untuk membangun komunitas belajar di antara sesama pelaku, di mana mereka dapat saling bertukar pengalaman, tips, dan bahkan berkolaborasi dalam promosi.

Dengan demikian, literasi digital berperan sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan saat ini dengan peluang masa depan. Bukan hanya tentang bertahan hidup di tengah persaingan yang semakin ketat, tetapi juga tentang menyiapkan fondasi usaha yang dapat diwariskan dan terus berkembang. Ketika pelatihan dilakukan secara rutin, berkelanjutan, dan inklusif, pelaku UMKM tidak lagi terjebak pada pilihan antara “sejahtera dulu” atau “mengembangkan usaha”—mereka bisa melakukan keduanya secara bersamaan.

Gabung bersama kami membuat perubahan positif bagi masyarakat.

Baca informasi pendaftaran mahasiswa baru → Download brosur FISIP UPRI →