Search
Laman ini terakhir diperbarui pada tanggal 9 Agustus, 2026.

MAKASSAR – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pejuang R.I (UPRI) Makassar membuktikan bahwa riset akademis tidak harus berakhir sebagai tumpukan kertas di atas meja. Sebagai puncak dari rangkaian Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang didanai hibah penelitian, tim dosen Ilmu Komunikasi menggelar workshop "Budaya Tuli dan Bahasa Isyarat" di Café Tulus, Makassar, Selasa (9/12/2025).

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni penutup, melainkan implementasi nyata dari riset yang bertujuan menciptakan ruang publik yang lebih inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Husnul Hidayah selaku ketua peneliti, menegaskan komitmennya untuk membawa ilmu komunikasi keluar dari ruang kelas menuju praktik nyata. Menurutnya, Ilmu Komunikasi UPRI berupaya mendorong riset yang memiliki social impact (dampak sosial) yang terukur.

"Kami ingin hasilnya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dalam membantu interaksi antara teman tuli dan masyarakat umum," ujar Husnul.

Seorang tenaga pendidik FISIP UPRI tampak antusias mempraktikkan gerakan isyarat saat mengikuti workshop bahasa isyarat di Kafe Tulus

Riset ini mengeksplorasi strategi komunikasi transaksional di Café Tulus, sebuah bisnis kuliner yang unik karena mayoritas pelayan dan baristanya adalah penyandang disabilitas rungu (tuli). Husnul dan timnya membedah bagaimana pola komunikasi yang efektif antara pelanggan yang mayoritas bisa mendengar dengan staf café yang memiliki keterbatasan pendengaran.

Kesuksesan riset ini tidak datang secara instan. Husnul menjelaskan bahwa tim peneliti telah menjalin kedekatan dengan pemilik Café Tulus jauh sebelum proposal penelitian mereka diterima untuk hibah PDP. Mereka melakukan pertemuan intensif untuk memahami pola komunikasi eksisting serta tantangan spesifik yang dihadapi staf café sehari-hari.

Selama beberapa bulan penelitian, tim UPRI bekerja sama dengan desainer dari Café Tulus untuk merancang solusi komunikasi yang aplikatif. Hasilnya, mereka mengimplementasikan sistem pemesanan berbasis visual menggunakan kartu menu grafis. Selain itu, ditempatkan pula flip-charts di setiap meja yang berisi panduan bahasa isyarat sederhana untuk mendorong pengunjung non-tuli berinteraksi langsung dengan para pelayan.

Sistem menu kartu inovatif di Kafe Tulus. Pelanggan mengambil kartu pesanan dan membawanya ke kasir, memudahkan komunikasi inklusif dengan staf disabilitas.

Melalui workshop penutup ini, para peserta—termasuk mahasiswa dan masyarakat umum—diajak langsung mempraktikkan bahasa isyarat menggunakan alat bantu yang telah dirancang. Husnul berharap inovasi sederhana seperti kartu grafis dan flip-charts ini bisa menjadi standar baru di tempat usaha lain.

"Harapan terbesar kami adalah riset ini menginspirasi pelaku bisnis lain untuk tidak ragu mempekerjakan teman tuli. Kami ingin membantu melakukan 'mainstreaming' teman tuli dalam kehidupan sosial, sehingga mereka tidak lagi merasa terisolasi dalam lingkungan kerja profesional," pungkas Husnul.

Dengan selesainya riset PDP ini, FISIP UPRI khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi kembali memperkuat posisinya sebagai institusi yang peduli pada isu-isu kemanusiaan dan komunikasi inklusif di ruang publik.

Foto bersama dosen Komunikasi UPRI dan mahasiswa peserta Workshop 'Budaya Peduli Bahasa Isyarat'.

Gabung bersama kami membuat perubahan positif bagi masyarakat.

Baca informasi pendaftaran mahasiswa baru → Download brosur FISIP UPRI →