Search
Laman ini terakhir diperbarui pada tanggal 6 Agustus, 2026.

Makassar – Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha, menyampaikan dukungannya terhadap penelitian yang dilakukan dosen dan peneliti Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) mengenai perkembangan musik Indonesia Timur dan fenomena Timurnesia. Dukungan tersebut disampaikan dalam wawancara antara para peneliti dan Giring Ganesha, yang berlangsung melalui Zoom (24/06).

Adapun para peneliti berasal dari kolaborasi dua kampus yakni, Dody Kurniawan dan Dewi Wulandari, selaku Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pejuang Republik Indonesia, serta Dian Riani Said, Dosen dan Peneliti Ilmu Linguistik, Universitas Muhammadiyah Bone.

Menurut Giring, kemajuan industri musik tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara komunitas, musisi, akademisi, pemerintah, dan pelaku industri.

"Tujuan utama kenapa ada FGD (yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor musik) adalah karena saya tahu untuk memajukan industri musik harus kompak," ujarnya.

Ia menilai kemunculan Timurnesia merupakan contoh bagaimana gerakan budaya dapat tumbuh dari inisiatif komunitas. Kehadiran Timurnesia dinilai berhasil membantu masyarakat dan pelaku industri musik dalam mendefinisikan karakter serta identitas musik yang berkembang di kawasan Indonesia Timur.

Dalam wawancara tersebut, Giring juga menegaskan bahwa tidak ada genre musik yang lebih baik dibandingkan genre lainnya. "Saya selalu percaya seluruh musik itu tidak ada yang jelek. Masalahnya hanya soal selera," katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap industri musik secara signifikan. Jika sebelumnya perkembangan musik lebih banyak ditentukan oleh industri besar, saat ini setiap genre dan bahasa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang melalui platform digital.

"Dulu musik lebih banyak didorong oleh industri. Sekarang musik lebih berbasis komunitas dan lokal. Berkat digital streaming platform, internet, dan media sosial, setiap genre dan setiap bahasa memiliki kesempatan masing-masing untuk bisa berkembang dan dikenal dunia," jelasnya.

Menurutnya, era digital telah membuka ruang yang lebih luas bagi musik-musik lokal untuk memperoleh audiens global. Hal ini menjadi peluang besar bagi musik Indonesia Timur yang memiliki kekayaan budaya dan karakter musikal yang unik.
Menanggapi penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti UPRI, Giring menyampaikan apresiasinya atas inisiatif akademik yang berupaya mengkaji perkembangan musik Indonesia Timur secara lebih mendalam.

"Saya senang teman-teman dari UPRI punya inisiatif ini. Di Kementerian Kebudayaan kami meyakini musik dari Timur bisa menjadi musik yang sangat besar dan dapat diadaptasi oleh masyarakat global," ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem musik Indonesia Timur, Kementerian Kebudayaan berencana menyelenggarakan Konferensi Musik Indonesia di Makassar pada Oktober mendatang. Kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan para pelaku musik dengan berbagai platform digital dan pemangku kepentingan industri.

"Kami berencana menghadirkan Spotify, YouTube, dan TikTok untuk melakukan capacity building bagi para seniman Indonesia Timur. Tujuannya adalah mendekatkan para stakeholder industri dengan para seniman dari kawasan timur Indonesia," tambahnya.
Penelitian yang dilakukan oleh tim UPRI ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam memahami perkembangan musik Indonesia Timur, sekaligus menjadi masukan bagi perumusan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekosistem musik yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Gabung bersama kami membuat perubahan positif bagi masyarakat.

Baca informasi pendaftaran mahasiswa baru → Download brosur FISIP UPRI →